Saturday, 31 May 2014

Anak-ku... Biarkan Aku Mati Bersama-Mu

Hermannsburg, 
13.40

Menjelang Paskah, film Tuhan Yesus adalah sesuatu yang nampaknya wajib ditayangkan di setiap gereja (terutama di Indonesia), dengan maksud mengingatkan kembali tentang pengorbanan Kristus di Kayu Salib.

Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras membuat berbagai versi tentang film Tuhan Yesus. Bagi saya, semua yang divisualisasikan sangat menolong untuk memberi gambaran dan memahami dari berbagai sudut pandang.. Toh, tidak ada dari kita yang benar-benar melihat peristiwa penyaliban bukan? Semua film dibuat berdasarkan narasi kitab Injil, yang berarti, terbuka kemungkinan untuk dibumbui dengan berbagai aspek tertentu sebagai bagian dari interpretasi para sutradara -atau mungkin ada teolog yang turut berkontribusi di dalamnya? who knows. 

Versi Injil Lukas adalah yang paling sering saya saksikan ketika saya masih kecil. Entah kapan terakhir saya menyaksikan versi tersebut, namun hampir 10 tahun terakhir ini, The Passion of Christ menjadi pilihan satu-satunya. Film yang dirilis tahun 2004 silam tersebut memang menuai begitu banyak kontroversi, namun tidak sedikit pula yang mengacungi jempol. Salah satu pihak yang begitu merasa dirugikan dengan munculnya versi The Passion of Christ ialah kalangan-kalangan tertentu dari orang Yahudi, yang menilai film tersebut seolah-olah mempertontonkan kesalahan orang Yahudi yang menyeret Yesus ke tiang salib. Belum lagi Mel Gibson, sang sutradara, dipercaya sebagai seorang anti-semitik, dan ayahnya menyangkali tragedi Holocaust yang pernah membantai habis jutaan warga Yahudi tersebut. Selain itu, poin lain yang dipersoalkan ialah konten kekerasan yang dipertontonkan, di mana sang tokoh Yesus benar-benar berlumuran darah ketika dicambuk dan dipukuli, dan adegan menuju Golgota juga terlihat begitu ekstrim. 

Namun, kecurigaan beberapa kalangan tentang aspek anti-semitik yang hadir melalui The Passion of Christ sesungguhnya telah dibantah  oleh Maia Morgenstern, sang pemeran tokoh Mary, yang adalah seorang keturunan Yahudi. Ayahnya adalah seorang survivor alias satu dari sekian yang selamat dari Auschwitz Concentration Camp, salah satu Kamp Konsentrasi Nazi yang terletak di Polandia. Memang, menurut Morgenstern, selain untuk memperlihatkan penderitaan Kristus -agar umat dapat menghayati betapa mahalnya pengorbanan tersebut- ada aspek lain yang hendak dijadikan pesan, yakni: untuk memahami betapa mudahnya massa digerakkan oleh para penguasa, atau bagaimana orang-orang dapat dimanipulasi oleh para pemimpin. Jadi, ini pesan penting menurutnya. Saya juga tidak tahu mengapa segala sesuatu yang saya baca dan saksikan beberapa bulan terakhir selalu saja ada kaitannya dengan tragedi Holocaust, tetapi di sini, poin saya bukanlah itu, dan saya tidak ingin mengaitkannya lebih jauh ke sana.

Apapun interpretasi banyak orang mengenai versi The Passion of Christ, bagi saya pribadi, ada 1 pesan yang juga tidak kalah penting dari tujuan untuk mengenang penderitaan Kristus ataupun seperti yang disebutkan oleh Morgenstern di atas -bahkan Morgernstern sendiri tidak menyebutkan sisi ini sebagai salah satu tujuan dari film tersebut. Selama ini, ketika menyaksikan film Tuhan Yesus, beberapa dari kita pasti menangis, atau setidaknya, hampir semua merasa sedih dan tersentuh. Sedih dan menangis karena tidak tega melihat Kristus dicaci, diludahi, diseret ke sana-sini, dipukul, dicambuk, dan lalu dalam keadaan yang sudah sangat sekarat masih juga harus memikul kayu salib ke atas bukit Golgota. Tentu saja sangat menyedihkan, dan tidak jarang itu menyayat hati kita yang merasa sudah diselamatkan melalui penderitaan tersebut. 
Namun, berapa dari kita yang pernah memperhitungkan perasaan sang ibu, Maria? Berapa dari kita yang pernah turut larut dalam pergolakan batinnya yang harus merelakan daging dari dagingnya untuk mati di kayu Salib? Adakah yang pernah menangis untuk Maria? 

Saya secara pribadi harus mengakui bahwa saya telah berkali-kali menangis untuknya karena kebesaran hatinya. Tanyakan pada semua ibu di dunia ini, adakah yang rela ketika anak-anak mereka menderita? Tentu tidak ada! Inilah salah satu alasan mengapa saya memilih untuk lebih sering menonton versi The Passion of Christ: perasaan sang ibu terekspresi dengan begitu jelas melalui peranan Maia Morgenstern, dan bagi saya, semua yang tergambar melalui perannya adalah hal-hal yang sangat mungkin terjadi kala itu.

Terlalu feminis menguak sisi sang Ibu? Tidak juga. Tapi, kalaupun dianggap demikian, ya tidak masalah juga. Toh menurut saya, sejak Allah memilih Maria untuk mengandung bayi Yesus (atau sejak Allah memutuskan untuk menyatakan kehadiran Yesus melalui rahim manusia -yang artinya harus melalui perempuan), sesungguhnya itu adalah bagian dari karya Allah untuk membebaskan kaum perempuan yang kala itu terpinggirkan dan dianggap tidak memiliki peranan apa-apa, terutama dalam urusan keagamaan. Jadi, sejak Yesus ditetapkan untuk dikandung di rahim Maria, sejak saat itu pulalah pembebasan terhadap kaum perempuan didengungkan (kembali). 

Bahkan, untuk mempertegas bahwa perempuan juga sama berhaknya dengan laki-laki dalam mewartakan Injil, Allah menjadikan perempuan sebagai penerima dan pengabar Injil pertama itu sendiri. Ya, dialah Maria. Dialah yang kepadanya Malaikat menyapa dan membawa Kabar Baik itu. Dan satu hal lagi, bahwa Allah, melalui malaikat Gabriel, menyapa Maria dengan begitu terhormat: "Salam, hai engkau yang dikaruniai." (Luk.1:28). Atau melalui Elizabeth, sanaknya: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu." 

Saat menyerukan hal tersebut kepada Maria, Elizabeth dipenuhi dengan Roh Kudus, yang berarti dari Allah sendiri (Luk.1:41). Sementara itu, sebelum mati di kayu salib, Yesus berseru kepada Sang Ibu: "Ibu, inilah, anakmu," dan kepada para murid: "Inilah ibumu." (Yoh.19:26-27). Dalam penafsiran saya, pernyataan Yesus tersebut sangat dalam maknanya. Ia menyerahkan para murid kepada sang Ibu, dan begitu pula sebaliknya, yang berarti: menyatukan keduanya. Sang Ibu diserahkan kepada persekutuan umat percaya, dan demikian pula umat dipersatukan dengan sang Ibu yang adalah simbol pembebas tadi; belum lagi tentang pengorbanannya merelakan Sang Anak. Maka, bagaimana bisa diabaikan perannya dalam mewartakan Injil, sementara dia sendirilah yang bukti pengorbanannya paling besar demi kemaslahatan Kabar Baik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Allah sendiri saja, yang adalah Pencipta, begitu menghargai dan menghormati perempuan, makhluk ciptaan-Nya, lalu bagaimana mungkin sesama manusia yang lain bisa merendahkan mereka?

Baiklah, itu sekilas tentang sisi feminis yang mungkin bisa dikaji dari perspektif Maria. Namun di sini, sekali lagi tujuan saya hanya ingin mengajak pembaca untuk sekedar mengenang kebesaran hatinya. Telah saya singgung di atas, tentu saja tidak ada ibu di dunia ini yang tega menyaksikan anak-anak mereka menderita. Dalam adegan The Passion Christ, Maria digambarkan terus mengikuti Yesus sejak di hadapan para Imam Besar, ketika disiksa di bawah perintah Pilatus, hingga ke Bukit Golgota. Memang, tidak semua Kitab Injil menyaksikan hal tersebut, namun Injil Yohanes adalah satu-satunya yang menyebutkan secara jelas bahwa Maria, Ibu-Nya -bersama beberapa perempuan yang lain- turut berdiri tidak jauh dari kaki salib Yesus (Yoh. 19:25).
 
adegan ketika Maria menyaksikan Yesus dicambuk, dan menyeka darah-Nya, sesudahnya.

Tentu saja kita paham benar bahwa Maria sudah menyadari semua resiko yang harus ditanggungnya ini, sebab sedari awal Malaikat Gabriel sudah menggemakan maksud Allah kepadanya. Patut diteladani kepatuhan yang membuatnya selalu berujar, "Jadilah padaku seperti yang dikehendaki Allah." Namun, tetap saja, menyaksikan Yang Dikasihi berjalan menuju kematian sungguh mengoyak batinnya. Ia hancur berkeping-keping, dan siapa yang tahu kalau hari itu mungkin saja dia sempat akan menggugat Allah? Rasa sakitnya tentu sampai ke tulang sum-sum, sungguh tak terbayangkan. Semakin terasa ketika sesekali matanya bertatapan dengan mata Sang Anak, dan setiap kali hal itu terjadi, ia selalu teringat akan hari-hari yang telah mereka lalui bersama. 

 Adegan ketika Maria berlari menembus kerumunan, menopang Yesus untuk berdiri kembali setelah Ia tersungkur. Di saat yang sama, memori tentang masa kecil Sang Anak terngiang di kepalanya, tatkala Sang Anak terjatuh dan ia berlari menggendong-Nya sembari berkata: "Ibu di sini."

Pada adegan di atas, Yesus merespon Ibu-Nya: "Ibu, lihatlah, Aku membuat segala sesuatu baru." Sekali lagi, Maria sadar benar akan tujuan tersebut. Tetapi, siapa yang dapat menyangkal bahwa ada bagian dari dirinya yang tidak mampu menerima penderitaan fisik Sang Anak? Maria sungguh tersiksa hari itu. Bahkan, sempat ia berucap: "Anak-ku.. Bilamana, dimana dan bagaimana, Engkau akan memilih untuk terbebas dari semua ini? Ungkapan tersebut jelas menggambarkan betapa hari itu Maria sangat bergumul dengan Allah. 

Namun, dari semua adegan yang diperankan oleh Morgenstern, ada satu yang paling menyentuh hati saya (dan ini juga ekspresi yang sangat mungkin terjadi kala itu). Tepat di kaki salib, ketika Maria melihat Yesus yang dipaku berseru kepada Allah: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat," air matanya sudah hampir kering. Ia memang menangis, namun sepertinya sudah berada pada puncak kepedihan, sehingga bukan lagi air mata yang menjadi penanda kesedihan dan kesakitannya, tetapi seperti yang tergambar di bawah ini:

Maria menggenggam kerikil di hadapannya dengan sangat kuat. Kalau sekarang ini, melakukan hal tersebut mungkin kita sertakan juga dengan menggertakkan gigi, di mana segala rasa: sedih, marah, tak berdaya, tak tahu lagi harus berbuat apa, bercampur menjadi satu.
*Maka, dengan semua yang ia rasakan, genaplah kesaksian Simeon kepadanya di Bait Allah: "...Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri..." (Luk.2:35)

Tanpa mengesampingkan peran Bapak, kita tahu bahwa Ibu adalah orang yang paling berani mengambil keputusan tatkala anak-anak menderita sakit. Jika saja anak yang sakit dapat membagi rasanya untuk ditanggung bersama-sama, atau jika boleh bertukar posisi dengan anak sehingga biarkan Ibu saja yang menanggung kesakitan tersebut, maka Ibu akan rela melakukan. Tepat seperti itulah perkataan terakhir yang terucap dari mulut Maria di akhir dari semunya, ketika ia menatap Yesus yang salib-Nya sudah berdiri tegak: "Daging dari dagingku, Hati dari hatiku.. Anak-ku, biarkan Aku mati bersama-Mu." Sangat menyakitkan, bukan? Meski hanya merupakan bagian dari penafsiran, tetapi bagi saya, Mel Gibson, melalui Maia Morgernstern, telah memperlihatkan hal dan sisi-sisi yang paling mungkin diucapkan dan diekspresikan oleh sang Ibu dalam segala keputusasannya. 


Maka, berdasarkan semua penggambaran di atas, saya rasa tidak salah jika kita mencoba menerawang Maria demikian, sehingga, tidak berlebihan jika setiap kali memperingati Jumat Agung, memperingati penderitaan dan pengorbanan Kristus yang sangat mahal itu, kita sertakan juga ucapan terima kasih kepada Sang Ibu yang tidak kalah menderitanya. Bagaimanapun, Maria adalah Ibu kandung-Nya. Dia telah berkorban begitu rupa, namun namanya sangat jarang walau sekedar untuk diingat sebagai seseorang yang juga telah turut ambil bagian dalam Karya Penyelamatan manusia. Jadi, selain (hanya) mengenalnya sebagai seorang Perawan Suci, akan kita kenang seperti dan sebagai siapakah dia? :) 


Selamat memperingati Hari Jumat Agung, selamat memaknai pengorbanan Allah di dalam Yesus Kristus, melalui rahim dan kepedihan Maria...

Best,
ElimWTaruk.

Friday, 23 May 2014

Hidup Sehat Yukkkk :D

Bonjouuuurrrrr Blogxy...
Long time no see ya, heheh.. 

Rindu juga.. Maklum-lah, baru saja menyelesaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan skripsi, dan baru sempat untuk corat-coret lagi di sini ((:

Oh ya.. dalam setengah tahun ini saya mengalami banyak hal yang sangat mengharukan, di antaranya:
-  masih bs memperingati Jumat Agung dan merayakan Paska,
- pertambahan usia papa dan mama,
- selesai seminar proposal; skripsi jg sudah kelar dan saat ini sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian/sidang pada tanggal 2 Juni mendatang *doakan ya ((:
- menerima kabar dari panitia program "Bridging the Gaps", Vrije Universiteit Amsterdam, yang menyatakan bahwa saya lolos utk mengikuti program tahunan tersebut..
- (juga) menerima kabar baik dari Georg-August-Universitat-Gottingen, Jerman, yang (juga) menyatakan bahwa saya diterima untuk studi lanjut pada program "Teologi Interkultural", yang akan dimulai pada bulan Oktober mendatang.. *yang ini dream comes true, hehe Praise the Lord..
- dll :D

* Merasa begitu diberkati dengan semua hal-hal luar biasa yang boleh saya alami dalam hidup ini.. Saya sadar (dan maafkanlah hamba-Mu ini jika sempat khilaf) bahwa segala sesuatu yang diperoleh dalam hidup ini adalah semata-mata karena Anugerah-Nya... Ya.. Hanya karena Anugerah-Nya..Thanks, my Lord..

---

Saya orang yang sangat memuja jam belajar di atas jam 12 malam - pagi *tidur 1-2jam, atau bahkan tidak tidur semalaman dan besoknya langsung beraktivitas secara total lagi, seringkali bukanlah masalah bagi saya.. Ya, saya sudah sangat terbiasa dengan jam-jam berlajar tersebut *entah kenapa, tapi rasanya lebih nyaman dan lebih fokus saja (mungkin karena lebih tenang ya? hehe)... 
Selama ini sih, saya baik-baik saja.. Selama di INTIM (bahkan sejak SD) saya belum pernah masuk RS.. So.. Dengan jadwal belajar di atas saya merasa aman-aman saja karena belum pernah merasakan sakit yang cukup serius atau bahkan dirawat inap di RS...

Tapi, ternyata saya harus mengubah cara berpikir saya, mulai dari sekarang...
Seminggu setelah skripsi selesai, saya mulai merasakan keanehan pada tubuh sebelah kiri... Hampir seluruh bagian tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki mengalami kesemutan yang cukup lama, dan sesekali dibarengi rasa nyeri... Awalnya berpikir bahwa itu karena kecapekan saja.. Tapi, ternyata sampai pada saat saya menulis di blog ini, rasa nyeri tsb masih sering muncul... 
Agak khawatir, tapi saya tidak begitu terbiasa berurusan dengan dokter--kecuali dokter gigi :D-- jadinya agak enggan juga untuk memeriksakan diri...

Sejauh ini, saya hanya mencoba untuk mengubah pola hidup--menjadi lebih sehat tentunya...
Oh ya, sebelum menjelaskan tentang pola hidup sehat saya sekarang, FYI, saya termasuk perempuan pecandu kopi *tolong dicatat ya.. Sehari bisa 2-3 gelas, dan pusing rasanya kalau tidak memulai pagi dengan segelas kopi :(
Nah, karena menjadi pecandu kopi "saya rasa" bukanlah kebiasaan yang baik, maka itu termasuk dalam bagian yang saya ubah demi mewujudkan hidup yang lebih sehat.. Sekarang saya:
- Sangat mengurangi konsumsi kopi (sekarang bisa 2-3 kali saja seminggu), *yeahhh :D
- Memperbanyak minum air putih *bisa sampai 4500-6000ml/hari... *Nah, bingung kan? Itu lho.. 4 botol aqua yang besar, hehehe.. 
- Memperbanyak konsumsi buah (yang punya banyak kandungan air sih lebih bagus mungkin ya) seperti: pear, apple, jeruk, sirsak, pepaya, dkk., untuk menopang kebutuhan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh ^^
- (Ini yang luar biasa menurut saya) Jam tidur harus benar-benar 6-8 jam sehari.. kadang bisa nembus 10 jam, wuahhhhhh. Padahal, mengubah kebiasaan itu tidak mudah lho menurut saya, sama tidak mudahnya ketika meminta seorang pecandu rokok untuk mengubah kebiasaan tersebut dalam waktu singkat. Jadi, menurut saya ini adalah sebuah prestasi, hehehe.. Selama ada niat untuk sesuatu yang lebih baik, sepertinya sih akan lebih mudah dan sangat dinikmati prosesnya.. Dan ya, saya rasa saya berhasil (: (: *Jam 10 atau 11 malem udah tidur, bangun jam 6 (kalau jam bangun sih nda pernah berubah, hehe)..
- Lebih banyak makan nasi, sayuran, tempe tahu dan ikan.. *sedang mengurangi konsumsi daging ayam (terutama yang jenis2 fastfood) dan mie (ini makanan yang paling sering tersedia di kamar). Mie--setelah baca beberapa artikel--memang sangat tidak baik bagi tubuh. Katanya sih, bisa memicu beberapa jenis kanker dan usus buntu... Benar tidaknya (soalnya bukan orang kesehatan, hehe), ya buat jaga-jaga saja; sebaiknya teman-teman yang gemar mengonsumsi mie, dikurangilah :) 

Nahhhh.. ini dia... 
- Lebih meluangkan banyak waktu untuk bersaat teduh dan berdoa (MOST IMPORTANT, kawans, hihihi) *soalnya bukan cuma fisik yang butuh disembuhkan dan disegarkan kembali, tapi rohani juga *selama sibuk-sibuk kan, yang rohani-rohani sering banget ditinggal-tinggal; apalagi kalau sudah capek, jarang yang mau tetep doa atau baca "Buku Kehidupan", hehehe *ngaku ga? :D *ini bukan pamer tapi ya.. sekedar promosi aja *hah? ga nyambung..

- dll., dll., dll.............


:D yang jelas, sekarang baru saya benar-benar menyadari bahwa selama ini saya telah "menyakiti" tubuh saya sendiri.. Ketika dia minta waktu untuk beristirahat, saya seringkali mengabaikannya dan memaksanya untuk tetap "on" dengan kopi yang justru lebih membahayakan keadaannya.. Memang sih, kadang (bahkan sering) kesibukan-kesibukan di kampus bikin kita tidak mampu menyelesaikan semua tugas di siang/sore hari, shg malam bahkan hingga larut malam masih harus bergumul mengerjakan tugas.. Sesekali atau jika memang urgent, mungkin dapat dimaklumi lah ya *tapi sebelumnya minta maaflah pada sang tubuh, hehe.. Keadaan yang kian melemah tentu akan menyadarkan kita bahwa segala sesuatu yang kita usahakan dan perjuangkan mati-matian tidak akan ada gunanya, jika ternyata kita mendapati tubuh kita dalam keadaan "sakit" (Berhubung saya orang teologi, maka ini bisa dikaitkan dengan tema menghormati hari Sabat, yakni hari peristirahatan setelah bekerja pada hari kerja yang telah ditentukan.. Jadi, jangan memperhamba diri pada rutinitas harian shg lupa bahwa tubuh benar-benar sudah ditetapkan untuk memiliki jam istirahat yang cukup ((: )! Kan, sia-sia saja toh segala sesuatu yang kita usahakan kalau ujung-ujungnya sakit? Malah tidak bisa menikmati jadinya ^^! 
 
So, setelah membagi pengalaman ini, saya harap teman-teman semua juga dapat lebih menghargai dan menyayangi tubuh.. Silahkan beraktivitas dan berkreasi sebebas mungkin, namun tetaplah mengingat bahwa tubuh yang dengannya kita melakukan segala sesuatu, tetap membutuhkan istirahat.. Sekali lagi, jika dia meminta untuk beristirahat, maka beristirahatlah dengan nyaman *tapi ingat bangun ya :p *hehehe, piss.. 

Sekian dulu lah ya pertemuan kita.. Ada banyak ide yang muncul selama beberapa bulan terakhir, namun sayang belum nemu waktu yang pas untuk nulis *lagi butuh banyak istirahat, hihihi.. See ya..


Regards,
Miss Sugar :D

Tuesday, 31 December 2013

The Journey of 2013: Pelangi Sehabis Hujan

21.29
@Daddy's room...


Time flies.. yah, time really flies.. Isn't it?? *ungkapan yang sama spt pada postingan refleksi setahun yg lalu (Pengharapan yang Membuatku Bersemangat-Refleksi thn 2012, menjelang tahun baru 2013).
Rasany, baru kemarin balik ke kampus setelah liburan Natal.. Rasany baru kemarin memulai English Club di Kampus (padahal mulainy bulan Februari); Berjuang sekuat tenaga demi paper2 dari kelas Metode Penelitian Sosial juga begitu, dan, berangkat ke Bali utk Praktek Jemaat pun, rasany sama, seperti baru terjadi kemarin ((:

Banyak kenangan mewarnai hari2 di sepanjang tahun 2013 ini, dan, tahun ini berat, Tuhan..
Awalny, kupikir tahun ini akan menjadi tahun paling sempurna dlm hidupku, tapi, ternyata aq salah.. Banyak hal.. Banyak sekali hal yang terjadi di luar keinginan dan harapanku.. Banyak hal yg mengecewakanku - tidak lagi sesuai dengan harapan yang sempat begitu menyemangatiku menjelang tahun 2013...
Tapi, rupany setelah tiba di penghujung tahun spt ini, barulah semuany nampak begitu jelas; Semua yg Kau buat baik adany.. I do believe, everything happens for a reason..

365 hari ke depan adalah teka teki kehidupan yang baru..
Ucap syukur atas sgl penyertaan-Mu di sepanjang tahun 2013, kirany Engkau tetap berkenan memelihara hati dan jiwa kami dalam menyambut dan memasuki tahun 2014, tahun karunia-Mu, ya Khalik Semesta...
Aq akan menagih janji-Mu di bulan Mei mendatang...
Sampai detik ini, aq masih percaya bahwa pelangi itu telah tersedia bagiku, dan itu cukup menguatkanku untuk melalui kabut, awan gelap dan hujan.. Sebab, hanya dengan melalui itu semualah, maka aq dapat menjumpai dan bahkan memiliki pelangi nan indah itu..


Selamat datang, 2014..

Regards,
Elim Wilsen Taruk


Thursday, 21 November 2013

Catatan Kecil Seputar Perjalanan ke Negeri Jackie Chan (:


"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati". Mungkin, peribahasa tersebut cukup tepat utk menggambarkan rangkaian perjalanan yang baru saja saya lakukan. 7 November kemarin sy berangkat ke negeri si aktor kawakan Jackie Chan, Hong Kong, untuk melakukan observasi terhadap kehidupan para TKW asal Toraja yang berada di sana. Tiger Air, di bawah group Mandala Airlines, menjadi "burung terbang" yang sy pilih utk membawa saya ke Special Administrative Regions of China tersebut. Well, Hong Kong is situated on China's South Coast and enclosed by the Pearl River Delta and South China Sea, and also known for its expansive skyline & deep natural harbour..

Yaph, penerbangan pukul 11.30 di malam tgl 7 Nov. tsb menibakan saya di HK pada pukul 05.00 dini hari (Tidak ada perbedaan waktu antara HK dan Makassar). Setelah menunggu sekitar 30 menit, datanglah kak Vivi (alumni dari kampus di mana sy sedang berkuliah saat ini) menjemput di Terminal A (Hehe). FYI, Kak Vivi bekerja di salah satu Lembaga Nongovernmental Orgnanization yang ada di HK (Christian Action), yang tugasny adalah membantu teman - teman TKW yang mengalami persoalan dalam kehidupan kerja mereka.

Sebelum ke flat kak Vivi, kami sempatkan utk mengisi perut yang sudah cukup keroncongan pagi itu. Kami menikmati secangkir susu coklat hangat dan burger di McD, yang lokasiny masih di dalam gedung terminal Airport. 

Kami melanjutkan perjalanan dengan bus yang menjadi salah satu transportasi umum dalam kota. Bagus banget, ga ribet jg; Tinggal beli voucher lalu isi kayak isi pulsa :D (namany Octopus Card), trus pake deh naik bus ke mana saja sesuai rute yang telah ditentukan, jadi, tidak perlu repot2 menyiapkan duit pas dsb. (kecuali kalau voucherny habis dan belum diisi ulang, nah bayar sj pake coin, hehe *Tarifny macam2, waktu itu sempet cek, kena 8,9 HKD; tergantung rute (: ))

Saya cukup menikmati perjalanan dari Airport ke Flat kak Vivi yang durasiny sekitar 45-60 menit. *first impression: Was so excited .. Kotany bersih, gedung2 menjulang tinggi nan rapi, kendaraan dan para pejalan kaki tertib, kemacetannya sangat tidak membuat stress, plus laut lepas di kanan kiri jalan yang super mempesona ((: *seriously, HK should be on of your destination place for vacation ^_^

*Tiba di Flat, kami langsung istirahat #Setelah bangun baru sadar, ternyata jetlag bikin pengen istirahaaaaattt yang lamaaaa hari itu, hahah *Maklumlah, soalny pas berkunjung ke sana, HK sedang memasuki musim dingin, jd panggilan utk tidur itu hampir ga bs dihindari deh  *Sebisa mungkin ke mana2 hrs sedia jaket, kaos kaki dan syal, soalny suhu skitaran 18-20 drjt celcius *Kalau orang  sana sih pake coat, legging hitam + boots *Kayak Korea2 gitu, hehe ..

Well, Sabtu pagi, karena kak Vivi libur kerja, maka di hari itulah baru kami bergegas utk mengunjungi Victoria Park -- tempat yang paling membuat saya penasaran setelah puluhan referensi memberi tahu saya, bahwa taman tersebut dijuluki "kampungnya orang Indonesia di Hong Kong, sebab di sana lah para TKW berkumpul dan bersenda gurau tiap akhir pekan, menghabiskan libur setelah 6 hari lamanya (kayak Kisah Penciptaan aja :p) mereka berkutat dgn pekerjaan rumah tangga  yang mungkin membuat mereka penat.

Dan, rasa penasaran saya pun terjawab ketika benar-benar duduk berdampingan dengan beberapa gadis manis nan ramah, yang saling bercengkrama dalam logat yang cukup akrab di telinga saya: Medoknya orang Jawa. Ternyata benar, para TKW kita -- Jawa khususnya -- memadati luasnya Victoria Park di akhir pekan hari itu. Lebih tepatnya, setiap minggu.

Intinya saya sangat menikmati hari-hari di sana. Belum lagi dengan variasi makanan yang *damn delicious* untuk manjain lidah, hebat2 pokoknya cara mereka masak (kebanyakan sih di steam, dan bumbuny enak-enak banget.
And, Luckily i got 2 free tickets for 2 different concerts: di St. John Cathedral (Konser utk para penderita HIV) dan yang ke-dua konser penggalangan dana utk anak2 tunawisma dari Afrika. Yah, they were awesome but sadly, hari itu (16 Nov) adalah hari terakhir saya di HK, karena minggu dini hari udah hrs ke Airport :)) .. 

Nah, karena udah balik ke Indo, kisah seputar perjalanan sampai di sini dl ya .. Getting curious?? Klo gt jgn lupa sisihkan duit saku, supaya kelak dapat menyempatkan diri mengunjungi negeri mungil nan indah itu, heheh .. 


*Pengalaman berjumpa dan pengamatan seputar kehidupan para TKW kita -- khususnya para TKW asal Toraja -- nyusul dalam catatan khusus yaa (: 
 

Here are some photos in HK ^^ 
With Kak Yola, one of our Woman Migrant Workers. She's so kind (: 
 The bus ..

Octopus Card (:
 Sebelum nonton konser anak2 Afrika, foto2 dl depan Grj Baptis (:
 Christmas is comin' up :D
simply love this city :*


Regards,
Elim Wilsen Taruk

Sunday, 20 October 2013

Sekilas tentang KNMTI 2013

"Blessed are the Peacemakers" ...
Was the choosen theme for "Konsultasi Nasional Mahasiswa Teologi di Indonesia Thn. 2013", which was held by PERSETIA (Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia). Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 16-20 Oktober di Wisma Kare-Makassar, dan sebagai Sekolah2 Teologi yg berdiri di kota Makassar, maka STT INTIM dan STT Jaffray didaulat sbg tuan rumah.Therefore, panitia yang dibentuk utk kegiatan ini adalah gabungan  mahasiswa/i dari kedua sekolah Tinggi Teologi yang bersangkutan: 5 mahasiswa/i dari STT INTIM Mks (Hosanna Anche Bangun, Kafrina Natalia Sawiri, Jeff Latuheru, Pardamean Simatupang dan saya sendiri), dan 2 dari STT Jaffray (Jonathan Duwiri & Ramto a.k.a Budi). Sempat terlintas di benak kami ketika SK dibagikan: Event sebesar ini, koq panitianya sedikit sekali ya??? 

Namun ternyata, jumlah yang kecil tdk membatasi kinerja panitia; terbukti para peserta memberikan respon yang cukup positif di akhir kegiatan (: *terima kasih, semangat kalian adalah vitamin bagi kami yang sempat kewalahan mengatur jadwal kegiatan, hehe .. Selain itu, Kak Michael (slh seorang pengurus PERSETIA) juga berperan dgn sgt baik dalam mendampingi panitia utk meng-cover seluruh rangkaian acara *And it's nice to know that you were also satisfied by our efforts-jgn bosan bekerjasama dgn kami lg ya kak, hahah

Tercatat sekitar 53 mahasiswa/i dari berbagai Sekolah Tinggi Teologia di Indonesia yang hadir sebagai peserta dalam kegiatan Konsultasi ini, dan sekali lagi, PERSETIA melalui KNMTI berhasil "mempertemukan & menyatukan" mereka yg berasal dari berbagai denominasi, utk turut memberikan kontribusi berupa ide-ide dan pemikiran bagi setiap persoalan-pergumulan sosial yang hadir di dalam realitas kehidupan, yang mau tidak mau, memaksa para teolog muda untuk larut di dalamnya dengan lebih sungguh-sungguh lagi.

Tema "Blessed are the Peacemakers" adalah tema yang mengajak sekaligus menantang para teolog muda untuk memikirkan langkah-langkah apa yang dapat ditempuh sebagai realisasi dari misi mewujudkan perdamaian, khususnya perdamaian di bumi pertiwi, di mana pluralitas menjadi ciri khas yang tidak dapat tidak, harus dihadapi. "Diversity is the only thing we all have in common", adalah sebuah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan situasi negeri kita tercinta, sebab kita tahu benar bahwa perbedaan dalam segala aspek kehidupan masyarakat kita merupakan kekayaan yang kerap kali terlupakan oleh kita, sehingga perbedaan-perbedaan tersebut justru lebih sering menggiring masyarakat pada perpecahan dan perselisihan. FYI, Perdamaian telah dan sedang marak diusung sebagai tema besar dalam seminar-seminar dan kegiatan lokakarya lainnya. Dan, bukan secara kebetulan bahwa tema: "Allah Kehidupan, pimpinlah kami pada keadilan dan perdamaian" mjd tema yang juga ditetapkan oleh Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) utk kegiatan Sidang Raya yang tengah berlangsung hingga tanggal 10 November di Busan, Republik Korea.

Mengapa perdamaian yang lagi-lagi dipilih menjadi tema besar? Ini mengindikasikan kpd kita sekalian bahwa kerusakan--kekacaubalauan dalam berbagai bidang kehidupan, kini telah menjadi momok bagi seluruh umat di dunia, dan secara khusus bagi penduduk di negeri indah yang dihiasi oleh gugusan ribuan pulau ini. Tidak kah sebagai manusia - manusia yang berpijak di atas tanahnya, kita rindu untuk menata kembali kehidupan, mengembalikan bumi pertiwi kepada harkat dan martabat yang sesungguhnya sebagai negara karunia sang Ilahi, negara yang dulu dibentuknya dalam keadaan baik, bahkan sangat baik? 

Yah.. hanya dengan kesadaran semacam inilah maka para teolog muda pada akhirnya dapat bersuara: pergumulan/persoalan di salah satu wilayah di Indonesia, adalah pergumulan semua masyarakatnya, masyarakat yang tersebar dan bertumbuh di dalam ideologi dan keyakinannya masing-masing. Mewujudkan perdamaian dalam konteks masyarakat kita bahkan di seluruh dunia, bukanlah tugas agama Kristen semata. Bukan pula tugas para tokoh agama maupun para pemerintah, melainkan tugas semua lapisan masyarakat yang justru mengaku beragama, sebab melalui agama semua umat mengenal dan meyakini bumi Indonesia sebagai bagian dari Mahakarya Sang Pencipta. 

Ternyata, kegiatan KNMTI 2013 cukup berhasil menstimulasi para peserta untuk benar-benar aktif dalam diskusi di seputar persoalan-persoalan sosial, untuk melihat peran setiap umat di dalamnya (khususnya peran gereja dalam konteks plural di Indonesia), dengan tetap mengusung "KASIH" terhadap sesama sebagai landasan utama, sebagaimana yang Yesus pernah lakukan "di tengah pluralitas di zaman-Nya". Tidak ada hal penting lain yang pernah diajarkan oleh Yesus selain daripada KASIH itu sendiri; kasih yang mampu merangkul dan bukan menindas, kasih yang mampu menyatukan semua kepelbagaian, kasih yang menghancurkan segala sekat atau tembok-tembok pemisah di dalam kehidupan seluruh umat ciptaan-Nya, kasih yang memimpin pada penegakan KERAJAAN ALLAH (kebenaran, keadilan dan damai sejahtera) di muka bumi. 

Bpk. Sosiolog Edward Poelinggomang, Ibu DR. Mery Kolimon, Bpk. Steve Gazpersz (an author & seorang ahli Sosiologi Agama), serta Bpk. DR. Nurman Said sbg. ahli Islamologi, adalah 4 narasumber yang dihadirkan oleh PERSETIA untuk mewadahi dialog pada 2 hari pertama. Dengan demikian, para peserta akhirnya memiliki "trigger" untuk melanjutkan diskusi tanpa narasumber di hari berikutnya (hari berikut difasilitasi oleh presentasi paper dari setiap mahasiswa/i), dengan bekal wawasan yang telah mereka peroleh dari diskusi-diskusi sebelumnya. 

Pada akhirnya, dengan melihat betapa antusias dan positifnya respon dari para peserta, maka panitia dan pengurus PERSETIA pun memiliki semangat untuk terus berkarya, dan berpikir untuk mengusahakan kegiatan-kegiatan yang bersifat membangun lainnya, terutama untuk membangun daya kritis dan jiwa sosial yang berlandaskan KASIH di dalam diri setiap generasi, yang memiliki kerinduan untuk mendedikasikan hidup mereka bagi keutuhan dan kesatuan semua umat di Indonesia bahkan di seluruh dunia, untuk kehidupan yang lebih baik, sehingga Kerajaan Allah dapat benar-benar diwujudkan di planet bumi tercinta ini. 

Terima kasih PERSETIA, terima kasih kepada semua lembaga yang menjadi tempat kami menuntut ilmu, terima kasih teman - teman Panitia, dan terima kasih kepada seluruh rekan-rekan mahasiswa/i Teologi dari mana pun kalian berasal. KNMTI 2013 telah menyatukan kita, dan segala sesuatu yang telah kita lewati bersama selama 4 hari 3 malam di Wisma Baruga Kare-Makssar, akan menjadi kenangan tak terlupakan di sepanjang usia kita. Kembalilah ke dalam tugas dan kehidupan teman-teman semua, dan jadi-lah "Duta Perdamaian" dengan dibekali hati sebagai hamba yang taat kepada Sang Penguasa Kehidupan, kapanpun dan di manapun teman-teman berada. Jangan takut, sebab meski bagai seekor domba yang diutus ke tengah - tengah serigala, tuntunan Tuhan akan senantiasa menyertai kita--Itulah Janji-Nya. ((:


The young Theologians in KNMTI 2013. Hope to se you all again in the future (:

Panitia punya cerita *wetsss, tmn2 peserta jgn iri lho ya, kan udh dpt pisang epe' :p heheh *pisssss


Dari Kota Daeng, dari Kota Angin Mamiri,
Salam Perdamaian, Salam Merah-Putih ^_^


Friday, 11 October 2013

Lagi! Satu Anak Tangga Terlewati ^_^

Thanks God, tahap itu telah berlalu dan terlaksana dgn cukup baik ..

Seharusnya, bagian tulisan yang ini diukir 2 bulan yang lalu, tepat setelah tugas Prakek Jemaat di Bali berakhir (ternyata langsung banyak kesibukan setelah tiba di Kota Daeng, hehe). Dan, beberapa kali mencoba menyimak kembali "buku kehidupan" ini,  rupa2nya, sudah ada hal lain yang mendahului bagian yang seharusnya terpampang lbh awal ini :D..

Well,
02 Juni-30 Juli 2013, adalah waktu yang diberikan bagi saya dan teman2 lain (mahasiswa/i Praktek Jemaat STT INTIM Makassar 2013) untuk melaksanakan tugas praktek, di berbagai daerah yang telah ditetapkan oleh kampus dan gereja2 pendukung. Praktek Jemaat adalah muara dari seluruh perkuliahan (teori + praktek2 kecil) yang dilaksanakan di kelas maupun di lingkungan sekitar kampus, dengan harapan bahwa melalui tugas praktek tersebut, apa yang telah didapatkan oleh mahasiswa melalui seluruh perkuliahan (terutama teori2 yg telah diperoleh), dapat diterapkan di dalam jemaat, di mana setiap mahasiswa/i melaksanakan tugasnya. Ini juga adalah langkah awal untuk mengamati, menganalisa dan mengenal persoalan2 yang terjadi di dalam jemaat, serta seluruh dinamika di dalam pelayanan, agar kelak mahasiswa/i tidak lagi heran jika harus berhadapan dengan realitas2 serupa di kemudian hari.

Bali. 
Pulau nan indah, pulau yang dikenal dengan sebutan Pulau Dewata, yang konon diberi nama demikian karena di sana bersemayam ribuan dewa (jd inget gunung Olympus, a.k.a kediaman para dewa dan dewi dalam Mitologi Yunani ; wuuu i love it anyway, hehe)..

Back to Pulau Dewata...
Pulau ini terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok, dan ibukotanya terletak di sebelah selatan Pulauny, yang kita kenal dengan nama "Denpasar" (lagunya si Maribeth itu lho: Denpasar moon :p). Pulau ini merupakan salah satu aset negara, sebab menjadi tourist destination yang cukup populer sampai ke mancanegara *klo bule2 aja cinta Bali, knp warga lokal ga? *ada yg blg, org Indonesia blm liburan namanya klo blm ke Bali, hehehe* 

Nah, di Pulau nan indah inilah saya melaksanakan tugas praktek selama kurang lebih 2 bulan *btw, ini sesuai harapan sejak 1 tahun sebelumnya; berharap dpt dBali, ternyata bener dpt, hehehe). Kesan pertamanyaaaa ga ngenakin bgt ya: tiba di Ngurah Rai jam 7 mlm, tp dijemputnya jam 11 mlm (rupanya jemaat tempat sy akan ber-PJ blm tau tt rencana kedatangan sy, (mungkin) disebabkan oleh lalainya sebagian pihak yang tidak memberikan konfirmasi kpd jemaat terkait) :p !!! *Thanks to Bpk. n Ibu Ponco, i miss you (:

Jam 12.30. Akhirnya tibalah sy di gereja yang "waw" itu, dan langsung diberi 1 kamar di graha gereja (di lantai 3, yang untuk sampai ke bawah itu hrs hati2 bgt, berhubung gerejany dbangun 6 lantai ke bawah a.k.a model basement, jadi gelap+dinginnn). Hmm, malam itu boleh lah, ternyata bs tdr nyenyak, hehe..

*Yg ga enak tuhhh hari berikutnyaaaa: Sepi + laper + krn kamarny di bawah, jadiny jauuuuhh untuk sampe ke jalan raya dan cari makan, hikss .. Sorenya baru nongol ke kantor gereja dan kenalan sm pegawai2 + beberapa kaum bapak beserta dengan Pdt. I Made Dwi Adnyana Putra alias Mentorku yg asli org Bali itu (hehe thanks for your guidance during my whole days over there ya pak).. 

Seiring waktu, ternyata ga butuh waktu yg lama utk bs beradaptasi dengan jemaat2 di sana. Ehh, kenalin dl. Jemaat tempatku praktek itu namanya: Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Jemaat Bukit Doa Nusa Dua. Gereja ini dibangun berdampingan dgn 4 rumah ibadah lainnya: pura, wihara, masjid n gereja katolik, jadi klo lagi pada ibadah/sembahyang, rame deh ^_^. 5 rumah ibadah yang terdapat di sini (diberi nama kompleks peribadatan Puja Mandala) didirikan atas ijin pemerintah setempat, dan lahan tempat berdirinya pun diberikan oleh pemerintah. Selain sbg objek pariwisata (krn terletak di pusat pariwisata *Nusa Dua), kelima rumah ibadah jg didirikan sbg simbol "kerukunan antar umat beragama". Mantep toh?? Kayaknya nda ada tempat lain di indonesia selain di Kompleks Puja Mandala Nusa Dua Bali (lengkap amat) yang 5 rmh ibadah berdiri berdampingan sekaligus, n surprisingly para penganut ga pernah "ribut" slama saya berada di sana (dan berdasarkan informasi dari para jemaat, selama ini mereka hidup aman dan saling toleransi satu sm lain) .. 

Nah, untuk tugas2 selama masa PJ, di sensor sj dl yah, hehehe .. pokoknya menyenangkan dan belajar banyak hal baru di sana. Jemaat2nya juga nda ada duanya deh *merasa sangat disayang dan diperhatikan* Terima kasih telah menjadi "guru" yang sangat baik bagi saya, karena kalian mengajarkan saya begitu banyak hal baru dlm hidup ini, khususnya dalam dunia pelayanan -- sampe akhir masa tugas, diservice gratis keliling Pulau Dewata dr ujung ke ujung, pokoknya sehari full khusus keliling2 deh, ((: *makasih utk "Ghayakath" dan om Edi yg sangat setia menemaniku. Dan tak lupa jg brterima kasih sm om Djoko sbg sponsor liburanku hr itu, hehehe God bless you abundantly pak ^_^ *sering2 yaa, hahahah .. 




 *With Mentor dan Bpk-Ibu Majelis*

Well,  
30 Juli saya pulang ke kota Daeng untuk melanjutkan kembali tugas n tanggung jwb sebagai (catet) PELAJAR. Tapi, berhubung thn ajaran baru dimulai tanggal 20an, maka sy memutuskan untuk pulang ke kampung halamannnnnnnnnnnnnn (rindu papa rindu mama rindu kakak2 rindu ponakannnnn dan rindu rumahhhhh), ehehe .. *Bonjour Palopo, Je T'Aime :* :* :* !!! Akhirnya menghabiskan 1 minggu di rumah baru balik lg ke Mks. 

Bersyukur, bersyukur bahwa Tuhan begitu baik dalam hidup saya ..
Rasanya begitu luar biasa semua hal yang Ia buat, dan selalu saja dibuat heran oleh pekerjaan2 tangan-Nya..

1 anak tangga terlewati lagi. Entah masih ada brp anak tangga yg lain, yg menunggu untuk didaki. Tapi, inilah saya dengan segala mimpi dan tekad yang kuat, berkomitmen utk menaiki anak2 tangga yang masih tersisa meskipun harus terseok2, supaya kelak ketika tiba di sana, I can shout it: TERNYATA PELANGI ITU INDAH ^___^ !!! Thanks God YOU'RE AWESOME .. Sy percaya akan janji2Mu bagi smua yg mau berusaha, "sebab masa depan sungguh ada dan harapanku di dalam-Mu tidak akan hilang" .. 





Warm Regards, 
Ms. Sugar,
hehe...


Saturday, 5 October 2013

I dedicate them to YOU n to my beloved family (:


Thanks for everything, Jesus, You're AWESOME !!!
Consciously confess that i'm NOTHING without YOU !!!
You're the Greatest one behind every single things i got in my life ..
n Thanks, really really thanks for every surprises you've provided us ..

So, these are my tireless efforts, i dedicate them to YOU as my Creator, and to my beloved family who never cease supporting me .. I Love you all .. 

 Thanks for the "award" from Pengkoordinatoran Mahasiswa Utusan Gereja Toraja
PM STT INTIM Mks (:

 The Medal, thankyou ((:

'N thanks to Badan Eksekutif Mahasiswa 
PM STT INTIM Mks Periode 2012-2013


"Sebab di dalam Kristus, usahamu, jerih lelahmu, tidak akan pernah sia - sia"
1 kor. 15:58

"Ia akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan ekor, asalkan................. Ul. 28:13 
(silahkan dilanjutkan sendiri, hehehe)

With Love,
_imchie_